close
Featured

Whip Pink: Antara Dapur, Klinik, dan Tragedi

Whip Pink

Jagat media sosial Indonesia baru-baru ini diguncang oleh kabar duka meninggalnya selebgram Lula Lahfah. Di tengah simpati yang mengalir, muncul sebuah istilah yang asing bagi telinga awam namun akrab di dunia hiburan malam: Whip Pink. Nama yang terdengar manis ini merujuk pada tabung gas merah muda berisi nitrous oxide (N2O) yang ditemukan di lokasi kejadian. Tragedi ini membuka kotak pandora tentang zat yang selama ratusan tahun berpindah-pindah peran dari laboratorium kimia, ruang bedah, dapur profesional, hingga berakhir sebagai tren rekreasi mematikan di kamar-kamar apartemen.

Selanjutnya: Whip Pink: Antara Dapur, Klinik, dan Tragedi

Dari Laboratorium ke Meja Makan

Awalnya seorang kimiawan Inggris, Joseph Priestley hanya ingin membedah misteri udara pada 1772. Namun, baru dua dekade kemudian (1799) di tangan Humphrey Davy gas ini menunjukkan khasiat psikoaktifnya. Davy yang menghirup gas ini merasa sangat bahagia, ingin menari, dan tertawa lepas, hingga ia menjulukinya sebagai “laughing gas”.

Setelah hanya jadi bahan untuk bisa bikin tertawa lepas di pesta-pesta bangsawan Eropa abad ke-19, N2O akhirnya mencapai eksistensi mulianya pada 1844 ketika seorang dokter gigi Amerika, Horace Wells menyadari potensinya sebagai obat anestesi. Awalnya, Wells menyaksikan seseorang dalam sebuah pertunjukan yang terluka kakinya saat sedang berada di bawah pengaruh gas tertawa tidak merasa dan bahkan tidak tampak kesakitan. Ia kemudian meminta rekannya untuk mencabut giginya sendiri sambil menghirup gas tersebut. Benar saja, ia tidak merasakan sakit sama sekali. Sejak itu N2O merevolusi dunia kedokteran karena mampu menghilangkan rasa sakit tanpa membuat pasien pingsan total.

Tak berhenti di sana, industri kuliner pada 1930-an melirik gas ini karena sifatnya yang unik. N2O bersifat lipofilik (larut dalam lemak) namun tidak mengubah rasa. Ketika ditekan ke dalam tabung berisi krim cair dan dilepaskan, gas ini mengembang dan menciptakan jutaan gelembung udara, menghasilkan whipped cream yang sempurna secara instan. Selain itu, gas ini menghambat pertumbuhan bakteri di dalam tabung, sehingga krim bisa bertahan lebih lama dibandingkan jika dikocok secara manual. Inilah alasan mengapa tabung seperti Whip Pink diproduksi secara massal dan legal. Zat ini telah membantu industri kuliner untuk menghemat biaya pembuatan whipped cream.

Klasifikasi Zat

Lalu, mengapa zat medis dan kuliner ini menjadi narkoba rekreasi yang marak?

Pertama-tama, kita perlu mengetahui bagaimana zat ini memengaruhi cara kerja otak. Saat dihirup, N2O memicu lonjakan dopamin dan endorfin sekaligus menghambat reseptor NMDA. Dopamin dilepaskan saat seseorang makan enak atau jatuh cinta; Endorfin dilepaskan saat luka, sehingga seseorang tidak tersiksa oleh rasa nyeri dan justru merasa hangat, nyaman, dan tenang; Hambatan reseptor NMDA membuat seseorang merasa “terputus” dari realita (disosiatif) sehingga hambatan sosial seperti kecemasan, rasa malu, dan kontrol diri ikut menghilang yang sering kali memicu rasa geli yang berlebihan terhadap hal-hal sepele. Saat ketiga kondisi tersebut terjadi dalam satu waktu pada seseorang, bayangkan betapa sangat bahagianya dia!

Tapi berbeda dengan ganja yang efeknya bertahan berjam-jam, efek N2O hanya bertahan 1-5 menit karena kelarutannya yang rendah dalam darah. Hal ini membuat konsumsi berulang-ulang dalam waktu dekat (binging) untuk mempertahankan rasa senang tersebut. Ditambah lagi, citranya yang “legal” karena dijual bebas di marketplace membuat banyak orang meremehkan risikonya, menganggapnya tak lebih berbahaya dari sekadar menghirup aroma kopi.

Secara internasional, N2O berada di zona abu-abu. Zat ini tidak terdaftar dalam UN Convention on Narcotic Drugs (1961) maupun Psychotropic Substances (1971) karena fungsinya yang terlalu vital bagi rumah sakit dan industri makanan. Melarangnya secara global akan menyebabkan kelumpuhan birokrasi di sektor kesehatan.

Meski begitu, beberapa negara mulai mengambil tindakan tegas akibat meningkatnya kasus kerusakan saraf pada konsumennya. Inggris, misalnya, sejak 2023 memasukkan N2O sebagai obat-obatan Golongan C, di mana kepemilikan untuk tujuan rekreasi bisa berujung penjara. Belanda pun melakukan hal serupa dengan memasukkannya ke dalam Opium Act. Di negara-negara ini, polisi memiliki wewenang untuk menangkap seseorang yang kedapatan membawa tabung gas tersebut jika tidak memiliki alasan profesi yang jelas.

Wacana Kebijakan di Indonesia

Kasus Lula menyingkap tabir betapa bebasnya peredaran zat ini di Indonesia. Seseorang bisa membelinya di toko bahan makanan (termasuk e-commerce) tanpa perlu menunjukkan lisensi tertentu, seperti dari profesi medis atau industri kuliner. Sejumlah investigasi di luar negeri melaporkan, gas ini sering ditawarkan di tempat hiburan malam dalam bentuk balon. Bukan tidak mungkin modus tersebut juga terjadi di sini. Polri menyatakan bahwa meskipun zat ini ditemukan di lokasi kematian Lula dan DNA-nya terdeteksi pada tabung, tapi tidak ditemukan unsur pidana karena barang tersebut memang legal untuk diperjualbelikan sebagai perlengkapan kuliner.

Kepala BNN, Suyudi Ario Seto menyatakan, sebagai langkah antisipasi agar fenomena ini tidak berkembang menjadi masalah strategis nasional, pihaknya mulai melakukan pengkajian mendalam yang meliputi kajian kimia terhadap sampel produk N₂O yang beredar bebas. BNN akan mendorong penyusunan regulasi yang membatasi peredaran dan penggunaan gas ini agar sesuai dengan peruntukan industri yang sah sekaligus melindungi kesehatan masyarakat.

Karena sudah terlanjur populer, saya tidak berharap pemerintah melarang total pemanfaatan N₂O karena penerapan kebijakan macam itu justru akan mendorong maraknya pasar gelap. Di pasar gelap, kandungan sebuah zat menjadi tidak terawasi sehingga semakin membahayakan konsumennya untuk keperluan apapun. Negeri ini punya pengalaman saat peraturan-peraturan daerah yang memperketat peredaran minuman beralkohol diterapkan, makin banyak masyarakat yang harus menenggak minuman oplosan dan terpaksa meregang nyawa.

Liberalisasi sama buruknya dengan pelarangan total sebuah zat lantaran minimnya (atau bahkan ketiadaan) pengawasan atas produksi, distribusi, maupun konsumsinya. Produsen akan berlomba untuk meraup cuan sebesar-besarnya dengan mengoplos zat tersebut demi meningkatkan kuantitasnya.

Untuk melindungi kesehatan publik, pemerintah memang sudah selayaknya bekerja lebih giat, misalnya dengan memperketat penerbitan izin usaha kuliner, mengawasi verifikasi pedagang terhadap lisensi dalam setiap perolehan N₂O termasuk pengawasan kualitas produk, serta pendidikan kepada masyarakat mengenai kesehatan. Di tengah pemberantasan KKN yang masih belum optimal, ini memang bukan pekerjaan ringan! Tapi pengalaman di banyak tempat, pengurangan dampak buruk konsumsi sebuah zat psikoaktif hanya dapat terwujud dengan implementasi regulasi yang ketat bukan pelarangan total.

Risiko Fatal dan Pertolongan Pertama

Perlu diketahui bahwa menghirup Whip Pink secara langsung sangatlah berbahaya. Risiko terbesarnya bukanlah kecanduan seperti pada “narkoba tradisional”, melainkan hipoksia (mati otak karena kekurangan oksigen) dan kerusakan saraf permanen akibat defisiensi Vitamin B12. Gas yang keluar dari tabung juga bersuhu sangat dingin, yang bisa menyebabkan luka bakar beku pada saluran pernapasan.

Kalau kamu menemukan seorang teman terlalu banyak menghirup gas ini dan menunjukkan gejala seperti bibir membiru, kejang, atau tidak sadarkan diri, lakukan langkah berikut: Jauhkan segera tabung atau balon dari jangkauan mereka; Pindahkan korban ke ruangan terbuka atau dekatkan pada jendela terbuka supaya mendapat asupan oksigen segar; Jika pingsan tapi masih bernapas, baringkan menyamping supaya tidak tersedak jika muntah; Segera bawa ke IGD dan berikan informasi jujur kepada petugas medis bahwa korban menghirup N₂O (nitrous oxide) supaya segera ditangani dengan tepat. Karena efeknya yang menyenangkan tapi cepat hilang, menghirup N₂O sering harus dilakukan berulang-ulang. Konsumsi yang demikian tentu saja lebih cepat merusak sistem pernapasan hingga bisa berakibat kematian. Hal yang sama juga berlaku pada konsumsi lem atau zat lain yang mudah menguap (inhalan) seperti bensin. Dengan khasiat yang sama-sama membuat lebih mudah tertawa tapi efeknya lebih bertahan lama dan aman, sudah saatnya pemerintah mempertimbangkan untuk mengizinkan konsumsi rekreasional ganja!

Selengkapnya
Kebijakan

Lupus dan Dunia Kerja

L-living-work-job

“Kok izin terus ya?”

Kalimat itu masih terngiang di kepala Dina (bukan nama sebenarnya), 29 tahun, seorang penyintas lupus yang pernah bekerja di perusahaan distribusi barang di Jakarta Selatan. Dina tahu tubuhnya tidak lagi seperti dulu. Dulu, ia kuat bekerja lembur. Tugas administratif ia tuntaskan cepat. Tapi sejak dua tahun lalu, tubuhnya mulai memberi perlawanan: sendi-sendi membengkak, kepala berdenyut tajam, dan tubuhnya mudah sekali kelelahan. Kadang ada bercak merah di wajahnya, tapi lebih sering tidak terlihat apa-apa. Dari luar, ia tampak sehat.

Selengkapnya
1 2 3 79
Page 1 of 79